Kata “makelar” akhir-akhir ini, semakin lama semakin menjadi sebuah kata yang berkonotasi negatif.
Bagaimana tidak? Setelah menggelindingnya kasus Bibit-Chandra, Prita, Anggodo, dan Bank Century, muncullah istilah lama di dunia peradilan yaitu markus (makelar kasus). Dengan digulirkannya wacana markus tersebut, paling tidak telah membuat stereotip tentang makelar semakin mengangga.
Pengertian
Padahal kalau mau dicermati secara kebahasaan, makelar berasal dari kata makelaar, bahasa Belanda, yang artinya membuat jelas. Yang mungkin juga berasal dari akar kata kelar yang bermakna usai. Secara sepintas, tak ada kenegatifan yang terkandung dalam kata ini.
Apalagi dalam bahasa Wiki, makelar adalah orang yang bertindak sebagai penghubung antara 2 belah pihak yang berkepentingan. Pada praktiknya lebih banyak pada pihak-pihak yang akan melakukan jual beli.
Soal makelar yang ingin mengambil untung yang besar dari “bisnis perhubungan” merupakan suatu kewajaran dari dunia perniagaan. Mana ada pebisnis yang mau untung kecil, kecuali pebisnis yang punya konsep idealis? Melihat hal ini, jelas hampir semua wiraniaga melakukan hal yang sama, ingin menangguk untung yang besar.
Jadi tak dapat disalahkan apabila seorang makelar melakukan tindakan yang sama, sebuah insting daganglah namanya.
Pemakaian
Karena mendapat pandangan negatif macam ini, maka terminologi makelar tak dapat disandingkan di tempat seperti bursa efek. Pihak bursa efek lebih suka menggunakan istilah broker. Padahal kalau dirunut, makelar dalam bahasa Inggris adalah broker. Jadi antara broker dan makelar setali tiga uang. Broker asal Inggris, sedangkan makelar asal Belanda. Dan nyatanya Inggris dan Belanda secara geoekonomik-kultural adalah dekat.
Gejala pengemohan ini juga terlanjur menjangkiti para blogger atau pebisnis di dunia internet. Mereka lebih suka mengatakan affiliate marketer daripada makelar untuk bisnis perantaraannya.

Januari 14, 2010 pukul 03:06